The British Museum: Gudangnya Dunia, atau Lapaknya Kemenangan?
Halo, para pemburu sejarah!
Saya ingin memulai dengan sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit tidak nyaman, tapi tolong renungkan sejenak:
Seberapa etis sebuah museum menyimpan benda curian dari negara lain, lalu memamerkannya sebagai “harta karun universal”?
Selamat datang di The British Museum, London—museum paling kontroversial sekaligus paling luar biasa di dunia. Di sini, Anda bisa melihat bukti peradaban manusia dari 2 juta tahun lalu hingga abad ke-21. Tapi di sini pula, Anda akan mendengar bisikan-bisikan protes: “Kembalikan Parthenon kita!” dan “Rosetta Stone milik Mesir!”
Ya, The British Museum bukan sekadar museum. Ia adalah medan perang ide, cermin imperialisme, sekaligus jendela ke masa lalu yang tak tergantikan. Dan hari ini, saya mengajak Anda berjalan di lorong-lorongnya dengan mata terbuka lebar—dan hati yang tidak takut bertanya.
Luangkan waktu. Mari kita menjadi detektif sejarah bersama. Siap? Masuklah perlahan, karena di sini, setiap batu punya cerita yang rumit.
Sekilas Dari Lemari Keingintahuan Menjadi Istana Sejarah
The British Museum didirikan pada tahun 1753, berdasarkan koleksi seorang dokter sekaligus naturalis bernama Sir Hans Sloane. Ia mewariskan lebih dari 71.000 benda kepada bangsa Inggris dengan syarat: “Semua ini harus bisa diakses publik secara gratis.”
Awalnya, museum ini sederhana. Tapi seiring kebesaran Imperium Britania Raya—dan “aktivitas pengumpulan” yang agresif di seluruh dunia—koleksinya membengkak. Batu, patung, manuskrip, mummi, perhiasan, pedang, topeng, semuanya datang dari Mesir, Yunani, Irak, Iran, India, Tiongkok, Afrika, Amerika, dan Pasifik.
Kini, The British Museum menyimpan lebih dari 8 juta benda. Hanya sekitar 1% yang dipamerkan. Sisanya disimpan di gudang bawah tanah yang hanya boleh diakses peneliti.
Gedung utamanya, dengan kolom-kolom Yunani dan atap kaca megah Great Court (dirancang Norman Foster, selesai 2000), adalah salah satu ruang publik paling spektakuler di London. Di tengahnya, ada Reading Room bundar bekas tempat Karl Marx menulis Das Kapital. Ya, di gedung inilah teori komunis lahir—ironisnya, di jantung museum kapitalisme.
Tapi cukup sejarah gedungnya. Mari kita lihat bintang-bintang kontroversial nya.
Tiga Benda Paling Dicari (dan Paling Diperdebatkan)
Sahabat detektif, saat berjalan di British Museum, Anda tidak bisa sekadar “menikmati” benda-benda ini. Anda harus bertanya: bagaimana benda ini sampai di sini? Mari kita interogasi tiga yang paling terkenal.
1. The Rosetta Stone – Kunci Peradaban Mesir, Tapi Juga Simbol Perampasan
Batu hitam besar ini, ditemukan pada 1799 oleh tentara Napoleon di Mesir, berisi teks yang sama dalam tiga aksara: hieroglif Mesir, demotik (aksara rakyat Mesir), dan Yunani kuno. Berkat batu inilah para ilmuwan akhirnya bisa membaca hieroglif—membuka seluruh sejarah Mesir kuno yang sebelumnya gelap.
Tapi begini ceritanya: setelah Napoleon kalah, Inggris mengambil batu ini sebagai “hadiah perang”. Sejak 1802, ia berada di British Museum. Mesir telah berkali-kali menuntut pengembaliannya. Inggris selalu menjawab: “Batu ini terlalu rapuh untuk dipindahkan. Dan di sinilah ia bisa dilihat semua orang secara gratis.”
Apakah Anda setuju? Berdiri di depannya, di balik kaca, Anda akan melihat antrean panjang wisatawan yang ingin berfoto. Batu ini luar biasa penting. Tapi ia juga tidak pernah pulang.
2. The Elgin Marbles (Parthenon Sculptures) – Mahakarya Yunani yang “Diselamatkan” atau “Dicuri”?
Pada awal 1800-an, Thomas Bruce, Earl of Elgin, duta besar Inggris untuk Kekaisaran Ottoman (yang saat itu menguasai Yunani), mendapat izin yang meragukan untuk “mengambil” beberapa pahatan dari Parthenon, kuil ikonik di Athena. Ia membawanya ke London dan menjualnya ke British Museum pada 1816.
Patung-patung marmer ini menggambarkan prosesi, dewa-dewi, dan pertempuran mitologis Yunani kuno. Mereka adalah puncak seni klasik.
Yunani telah meminta pengembaliannya selama beberapa dekade, bahkan membangun Museum Acropolis modern yang canggih untuk menerima mereka. Inggris menolak, dengan argumen: “Di London, mereka bisa dilihat oleh lebih banyak orang dari seluruh dunia.”
Di sisi lain, banyak kurator dan sejarawan yang mulai berubah pikiran. UNESCO telah menawarkan mediasi. Perdebatan terus berlangsung hingga hari ini.
Saat Anda berdiri di ruangan khusus Elgin Marbles (Room 18), coba rasakan: apakah Anda sedang mengagumi seni, atau sedang menyaksikan bekas luka sejarah?
3. Patung Ramesses II – Penguasa Mesir yang “Pergi” ke London
Patung dada raksasa Firaun Ramesses II (lebih dari 2,5 meter) ini adalah salah satu yang paling difoto di museum. Ia ditemukan di kuil Thebes, Mesir, lalu dibawa ke Inggris pada 1818.
Ramesses II adalah firaun terkuat Mesir. Ia memerintah selama 66 tahun. Kini, ia duduk di aula besar British Museum, dikelilingi turis yang mengambil swafoto.
Bayangkan jika ada museum di Kairo yang memamerkan patung Ratu Elizabeth I yang dicuri dari London. Bagaimana perasaan Anda? Itulah yang dirasakan banyak orang Mesir.
Tapi British Museum juga punya pembelaan yang tidak sepenuhnya salah: banyak artefak ini diselamatkan dari penjarahan, pelapukan, atau kehancuran di negara asalnya. Misalnya, patung-patung dari Nimrud (Irak) sekarang aman di London karena situs aslinya dihancurkan oleh ISIS pada 2015.
Jadi, di mana batas antara “penyelamatan” dan “penjajahan”? Tidak ada jawaban mudah.
Benda Lain yang Tak Kalah Luar biasa (Tanpa Kontroversi Besar)
Tidak semua koleksi British Museum bermasalah. Banyak yang datang dari sumbangan, warisan, atau pembelian yang sah. Beberapa favorit saya:
- Mummy of Katebet – Seorang pendeta wanita Mesir yang mumianya masih terbungkus rapi dengan jaring manik-manik emas. Melihatnya membuat Anda merenung: apa yang akan tersisa dari kita 3.000 tahun lagi?
- Lewis Chessmen – Buah catur dari gading walrus abad ke-12 yang ditemukan di Skotlandia. Wajah-wajahnya lucu dan mengerikan sekaligus—ada raja yang memegang pedang, ratu yang menunduk, dan ksatria yang menggigit perisai mereka.
- Hoa Hakananai’a – Patung batu dari Pulau Paskah (Rapa Nui). Tingginya hanya 1,5 meter (jauh lebih kecil dari yang di film), tapi auranya begitu kuat. Chili telah memintanya kembali, dan British Museum sedang “bernegosiasi”.
- Oxus Treasure – Ratusan benda emas dan perak dari Kekaisaran Persia Achaemenid (sekitar 500 SM), ditemukan di dekat sungai Oxus di Tajikistan. Mungkin koleksi emas kuno paling indah di dunia.
Great Court Jantung Museum yang Menyambut Semua Orang
Sebelum keluar, jangan lewatkan Queen Elizabeth II Great Court—atap kaca terbesar di Eropa yang menutupi halaman tengah museum. Di sini, Anda bisa duduk di tangga Reading Room, menikmati kopi, dan mengamati manusia dari seluruh dunia yang datang dengan tujuan berbeda: ada turis, peneliti, aktivis yang protes, hingga anak-anak sekolah yang bergurau.
Dari Great Court ini, saya suka membayangkan: pernahkah semua benda ini berkumpul di satu tempat seperti sekarang? Sebuah patung dari Yunani, batu dari Mesir, topeng dari Kanada, pedang dari Jepang—semua bertetangga dalam satu gedung.
Apakah ini gambaran persatuan umat manusia, atau gambaran ketidakseimbangan kekuasaan?
Tips Berkunjung Cara Cerdas Menjelajah Labirin Sejarah
Sahabat detektif, British Museum itu sangat besar, sangat ramai, dan sangat membingungkan (layout-nya seperti labirin karena bangunannya tumbuh selama 270 tahun). Berikut tips dari saya:
- Masuk gratis, tapi donasi sangat dihargai – Ya, Anda tidak salah baca. British Museum (seperti banyak museum London) tidak memungut biaya masuk untuk koleksi permanen. Mereka meminta donasi £5 atau lebih. Berikan jika Anda mampu, karena operasional museum ini sangat mahal.
- Pilih 3-5 benda yang wajib dilihat – Jangan coba melihat semuanya. Saya sarankan: Rosetta Stone, Elgin Marbles, Mummi Mesir, Lewis Chessmen, dan Patung Ramesses II.
- Datang saat pembukaan (pukul 10.00) atau Kamis/Jumat malam – Kamis dan Jumat museum buka hingga pukul 20.30. Suasananya lebih tenang, dan cahaya malam di Great Court sangat dramatis.
- Ikuti tur tematik yang gratis – Banyak tur singkat yang dipandu relawan, misalnya “Benda-benda yang Diperdebatkan”, “Seni Kekaisaran”, atau “Perempuan dalam Sejarah”. Ini cara terbaik untuk belajar.
- Baca sisi lain dari cerita – Sebelum berkunjung, baca artikel tentang “repatriasi” atau “dekolonisasi museum”. British Museum sedang dalam tekanan besar untuk mengembalikan banyak benda. Luangkan waktu untuk merenungkan posisi Anda.
- Jangan lewatkan toko buku – Toko British Museum adalah salah satu toko buku arkeologi dan sejarah terbaik. Saya selalu membeli peta reproduksi atau buku tentang kontroversi Elgin Marbles.
British Museum Adalah Cermin yang Tidak Nyaman
Kita sudah menghabiskan waktu untuk menjelajah lorong waktu, dan saya harap Anda tidak pulang dengan perasaan “senang” semata, tetapi juga “terganggu” secara produktif.
The British Museum tidak bisa direduksi menjadi sekadar “tempat wisata keren”. Ia adalah monumen bagi keingintahuan manusia, sekaligus monumen bagi keserakahan kekaisaran. Ia menyelamatkan banyak benda dari kehancuran, tapi ia juga merampas hak negara lain atas warisannya sendiri.
Tidak ada jawaban mudah. Tapi dengan berdiri di depan Rosetta Stone atau Elgin Marbles, kita sedang berpartisipasi dalam percakapan yang sudah berlangsung puluhan tahun. Dan itu, menurut saya, adalah hal yang sangat berharga.
Jadi, jika suatu hari nanti Anda masuk ke Great Court yang megah itu, jangan hanya mengangkat ponsel. Angkat juga kesadaran Anda. Tanyakan pada setiap benda: “Siapa yang membuatmu? Untuk apa? Dan bagaimana kau bisa ada di sini?”
Terima kasih telah menjadi detektif yang berani. Sampai berburu sejarah lagi di lain waktu.